Pilkada Bengkulu Utara

3

Oleh Nediyanto Ramadhan, SH.MH (Nedi Akil)

Sebagai putera daerah Bengkulu Utara, lawyer atau advokat dan Dosen Hukum Pidana Pemilu Fakultas Hukum Universitas Prof Dr Hazairin SH Provinsi Bengkulu Selalu mengikuti dan menyimak perdebatan serta perbedaan pendapat mengenai calon tunggal Pilkada Bengkulu Utara.

Tentu ini menjadi perhatian serius calon tunggal, bukan berarti calon tunggal yang sudah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum dapat leluasa memenangkan Pilkada 9 Desember nanti, dapat serta merta dipilih oleh rakyat dan dapat menang dengan mudah. Lalu mengisi jabatan yang diinginkan.

Masih ada Ganjalan, yaitu melawan Kolom Kosong, kolom kosong ini merupakan SIMBOL perlawanan publik terhadap kepentingan elite politik. Dalam ketentuan UU Pilkada pada Pasal 22, “Kotak kosong menang jika calon tunggal tidak mampu mendapatkan suara lebih dari 50 %, suara sah.

Hal itu dijelaskan oleh salah satu Pengacara kondang Provinsi Bengkulu, Nediyanto Ramadhan, SH.MH atau pria yang akrab dipanggil Nedi Akil ini pada akun facebooknya, Minggu (02/11/2020).

Tidak akan terjadi kekosongan kepemimpinan di daerah jika Kolom Kosong Menang, masyarakat tidak perlu cemas karena boleh memilih atau coblos Kolom Kosong atau Calon Tunggal. Yang jelas gunakan hak pilih atau suara secara bertanggung jawab dan sesuai dengan hati nurani masing-masing.

Jika ada yang bertanya tentang siapa yang memimpin jika kolom kosong menang,Sebaiknya kita membaca UU Pilkada dengan baik sehingga memiliki ilmu dan tidak hanya debat kusir di media sosial yang berujung dengan perdebatan tidak bermanfaat. Jika kita kurang pengetahuan atau ilmu tentang pilkada, sebaiknya jangan memvonis, tanya ke ahlinya, ada KPU, ada ahli hukum dan lain-lain. Jangan membuat Propaganda yang justru mengundang permusuhan dan perpecahan, bijaklah dalam bermedsos, semoga Bengkulu Utara Pilkada nanti dapat pemimpin berkualitas yang dapat mensejahterahkan rakyatnya.

JANGAN TANYA LAGI jika KOLOM KOSONG MENANG siapa pemimpinnya? Hentikan mengeluarkan statemen dengan mengatakan “orang yang memilih kolom kosong itu tidak pintar dan sebagainya”. Sekali lagi baca UU Pilkada agar kita semua benar-benar memahaminya dengan baik. Semoga sedikit memberi pencerahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here