Warga Desa Batu Layang Gelar Dawuhan/Among

781

Bengkulu Utara,Ganendralamont.com-Di Indonesia banyak sekali acara tradisi yang digelar bertujuan untuk merawat alam. Salah satu upacara tradisi yang sangat lekat dengan hal adalah tradisi “Dawuhan atau Among” yang sampai saat ini masih dilestarikan masyarakat desa Batu Layang Kecamatan Hulu Palik Kabupaten Bengkulu Utara.

“Acara ini khusus digelar setiap bulan safar tanggal 15. Pada umumnya dilakukan untuk mengirim doa kepada Tuhan yang Maha Esa dan Tradisi Dawuhan/among ini justru dilakukan di tempat-tempat yang terdapat sumber mata airnya.”Terang Sugiri Selaku Ketua Adat Desa Batu Layang, Selasa (15/10/2019).

Sebagaimana upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa pada umumnya, upacara dawuhan ini juga ditemui beragam jenis sesaji. Adapun sesaji yang digunakan dalam do’a tersebut antara lain adalah beragam macam makanan seperti nasi berkat dan takir plontang.

“Nasi berkat ini dibawa oleh setiap warga yang menggelar acara tersebut. Tujuan penggelaran acara tradisi ini selain untuk mengucapkan rasa syukur atas karunia berupa sumber air yang melimpah juga digunakan sebagai ajang untuk memperat persaudaraan masyarakat sekitar.”Ujar Sugiri.

Untuk masyarakat Desa Batu Layang sendiri upacara Dawuhan/among ini digelar di sebuah aliran sungai yang bernama sungai penegai air dingin dan sungai aliran air nakai.

“Sungai yang aliran airnya berada di lereng bukit barisan ini oleh masyarakat sejak dahulu telah digunakan untuk berbagai keperluan. Maka dari itu lewat do’a Dawuhan/among ini, selain untuk mengucapkan rasa syukur, masyarakat yang menggelar do’a tersebut juga turut menjaga kelestarian dari sungai.”Ucap Sugiri.

Menurut keyakinan warga setempat tradisi ini merupakan budaya atau adat yang diturunkan oleh leluhur mereka yang bertujuan untuk menjaga dan melestarikan sumber mata air.

Di sisi lain tradisi ini juga digelar sebagai bentuk ucapan rasa terima kasih kepada Tuhan. Dan yang tidak kalah pentingnya melalui tradisi ini masyarakat Desa Batu Layang bisa saling bekerjasama untuk merawat kelestarian sumber mata air serta menjaga keharmonisan hidup bertetangga.

Biasanya tradisi ini mulai digelar sekitar pukul 07.30 pagi. Pada saat itu warga sekitar dengan membawa berbagai jenis makanan yang dibutuhkan, masyarakat akan berduyun-duyun ke tepian sungai atau irigasi tersebut. Begitu sampai di tepi sungai tersebut makanan segera di taruh dan kemudian di do’akan oleh sesepuh desa setempat.

Tentang doa yang dipanjatkan selain ucapan terima kasih juga permohonan agar masyarakat desa Batu Layang mendapat keberkahan sekaligus perlindungan dari segala hal yang tidak baik.

Dalam kesempatan itu turut pula di tawasulkan doa kepada para leluhur yang telah terlebih dahulu berada di alam keabadian.

Setelah selesai di do’akan nasi berkat yang dibawa oleh masyarakat tadi lantas dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir pagi itu. Uniknya dalam pembagian nasi berkat ini mereka tidak akan membawa berkat yang mereka bawa tadi.

Setelah acara selesai sejumlah berkat akan dimakan bersama di lokasi. Sedangkan sebagian lagi akan dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Cara ini ditempuh bertujuan untuk mengguggah kesadaran manusia agar tidak hanya mencintai alam saja, tetapi juga mengandung pesan, agar sebagai manusia kita harus mau berbagi dengan sesama secara ikhlas.

(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here