Masih Adakah Budaya Peduli Diantara Kita?

207

Bengkulu Tengah,Ganendralamont.com-Seiring dengan arus modernisasi dan globalisasi yang masuk dalam kehidupan kita saat ini, termasuk serangan pengaruh budaya barat yang begitu sedemikian dahsyatnya menerpa generasi muda, tentu dampaknya tidak hanya di kota metropolitan saja, namun sudah sampai ke daerah-daerah nusantara pelosok, yang sudah tidak mampu lagi dibendung oleh pemerintah yang disebabkan oleh perubahan yang sangat mendasar pada tatanan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Ini menimbulkan pengaruh luar biasa terhadap budaya yang selama ini dijunjung tinggi oleh bangsa ini, yakni budaya saling berbagi, tolong-menolong, kebersamaan bergotong-royong yang menjadi alat pemersatu kebhinekaan negara tercinta ini.

Seiring berjalannya waktu telah berubah dengan kecepatan yang sangat tinggi menjadi sifat-sifat egoistis, individualistik dan sifat masa bodoh serta tidak mau lagi peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya, baik itu tetangga, sahabat karib, termasuk keluarganya sendiri.

Ini sangat membahayakan jika generasi muda kita memiliki sifat dan kepribadian seperti hal tersebut.

Mengapa itu bisa terjadi? Banyak orang yang kurang memiliki rasa peduli, akhirnya mereka hanya mementingkan diri sendiri dan menjadi apatis.

Hal ini sangat tidak baik, karena bisa menimbulkan banyak dampak negatif, hingga akan berakibat pada kerusakan moral. Sebagai contoh, salah satu penyebab rusaknya negara ini adalah korupsi.

Korupsi sendiri disebabkan karena para koruptor tidak memiliki rasa peduli pada rakyat, sehingga dia tega memakan uang rakyat. Contoh lainnya adalah terjadinya pemanasan global.

Hal ini juga disebabkan karena kurangnya rasa peduli manusia terhadap lingkungan, manusia yang tidak bertanggung jawab hanya bisa mengambil manfaat dari bumi tapi tidak bisa menjaganya dan tidak mempedulikannya.

Itu hanyalah dua dari banyak dampak negatif yang ditimbulkan oleh kurangnya rasa peduli.
Belum lagi, hilangnya rasa tolong-menolong antar sesama.

Kemiskinan dan kebodohan yang semakin merajalela, itu semua karena sikap mereka tidak peduli, tidak mau berbagi ilmu dan pengalaman. Kemiskinan dan kebodohan sebenarnya mampu diatasi secara perlahan-lahan, jika seluruh masyarakat sama-sama mau bergotong-royong, bersama-sama seluruh elemen baik lembaga sosial atau kemanusiaan dan pemerintah.

Seperti apa yang dilakukan sekelompok Pemuda-Pemudi Nahdlatul Ulama di Kecamatan Pondok Kelapa bersama program-program besarnya menyangkut pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kebencanaan.

Apa yang direalisasikan bersama program-program kebencanaan? hal ini sangat patut diberikan apresiasi dan seharusnya bisa dijadikan contoh oleh Pemerintah dalam mengatasi problematika kehidupan masyarakat seperti saat ini yaitu kekeringan.

Dengan demikian kita harus bisa meningkatkan rasa peduli kita, baik kepada sesama ataupun pada lingkungan.

Saat-saat seperti sekarang inilah, apalagi di bulan Muharam kita sudah sama-sama memperingati tahun baru dan hari asyura menjadi momentum yang sangat baik untuk kita berhijrah, memperbaiki diri (muhasabah), menumbuhkan rasa saling peduli, berbagi, dan bergotong-royong.

Karena meningkatkan rasa peduli itu tidak sulit, kita hanya harus bisa saling memberi, berbagi, menjaga, mengerti, dan saling menyayangi.
Bagaimana cara menumbuhkan kepekaan untuk saling berbagi, peduli, dan empati?

Pertama, tumbuhkan sikap positif dalam diri kita. Insya Allah dengan kita selalu berbaik sangka terhadap seseorang, akan mempermudah kita semakin mendekat pada rasa kasih sayang dan kepedulian. Tidak hanya itu, kita juga mampu mengurangi sifat egois kita. Selain itu, kita bisa ikut merasakan penderitaan orang lain sehingga kita bisa mengerti keadaan orang lain.

Kedua, mengurangi beban dan penderitaan orang lain, jika kita biasakan sifat dan prilaku ini dalam diri kita, secara tidak langsung kita membuat orang lain membuat orang lain menjadi bahagia, karena kepedulian kita padanya, sehingga timbul hubungan yang harmonis semakin harmonis.

Empati dapat menjadi kunci menaikkan integritas dan kedalaman hubungan dengan orang lain. Semakin kita dekat dan merasakan kesusahan atau penderitaan yang dialami orang lain, maka kita akan semakin mengerti dan menyadari betapa berartinya hidup kita. Mungkin kita akan merasa lebih beruntung karena tidak sampai mengalami penderitaan yang demikian.

Semoga kita memiliki kepekaan sosial, rasa peduli dan empati yang tinggi sehingga hati kita akan tergerak untuk turut membantu meringankan penderitaan orang lain dengan berbagai macam wujud bantuan yang bisa kita berikan. Tak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri saja, apalagi sampai merampas hak orang lain yang sebenarnya bukan milik kita.

Slamet Imam Wakhyudin, S.Ag Selaku Wakil Ketua NU Kabupaten Bengkulu Tengah, Selasa (17/09/2019).

(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here